Rabu, 14 November 2012

PERANG CYBER INDONESIA VS MALAYSIA





   MASALAH Ambalat menyulut ketegangan hubungan Indonesia Malaysia. Dua
   negara bertetangga ini sudah menyiagakan armada perang. Namun,
   keduanya masih menahan diri dan berusaha mencari jalan damai.

   Dalam dunia nyata, situasi masih terkendali. Tapi tidak demikian
   dengan dunia maya. Perang cyber langsung meletus beberapa hari setelah
   pemerintah kedua negara menyiapkan armada di seputar Ambalat.

   Serangan dimulai oleh cracker Indonesia sekitar. Cracker
   merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang
   melakukan tindakan memasuki sistem keamanan komputer dan kemudian
   mengubah tampilan hingga melakukan perusakan.

   Beberapa situs diserang sekaligus, di antaranya milik kantor negara
   bagian terbesar di Malaysia, Sultan Perak. Para cracker mengubah
   tampilan dengan membubuhkan kalimat 'Indonesia bersatu dan jangan
   ganggu tanah airku' dengan latar belakang bendera merah putih. Dalam
   situs itu ditinggalkan pula lima sila Pancasila.

   Cracker itu kemudian meninggalkan identitas diri, yaitu Kupuuss. Ia
   memasang fotonya --entah benar entah tidak-- sedang bergandeng mesra
   dengan artis Dian Sastro Wardoyo.

   Situs lain yang diserang adalah klpages.com milik perusahaan Yellow
   Pages Malaysia. Begitu situs dibuka, orang langsung mendengar lagu
   Indonesia Raya. Pesannya, 'Anda inginkan perang? Kami akan layani'.

   Pada hari-hari berikut, jumlah situs Malaysia yang di-deface atau
   diubah tampilannya kian banyak. Antara lain situs resmi milik Ketua
   Pengarah Kerja Raya, Universitas Sains, dan United Nations Development
   Programme Malaysia yang beralamat di undp.org.my. Tampilannya diubah,
   tidak lupa pencantuman pesan yang pada intinya bermuara pada kata-kata
   'Ganyang Malaysia'.

   Lalu, apakah para cracker Malaysia diam saja? Tidak. Mereka membalas
   men-deface beberapa situs Indonesia. Di antaranya web server milik
   Internet Service Provider Radnet (ISP) Surabaya. Jaringan mereka
   dijebol komunitas yang menamakan diri Dedemit Maya Malaysia.

   Situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya yang berada di bawah ISP
   Radnet ikut dimasuki. Tampilannya diubah dengan pembubuhan kalimat
   yang pada intinya mengajak damai karena Indonesia dan Malaysia adalah
   bangsa serumpun. Belum lama ini --seperti diberitakan detik.com--
   situs BNI 46 juga diserang. Para cracker Malaysia berhasil menyisipkan
   satu halaman berisi pesan di situs bnicardcenter.co.id.

   Koordinator Logistik dan Sistem Teknologi Informasi Komisi Pemilihan
   Umum Surabaya, Didik Prasetiyono membenarkan adanya serangan dari
   cracker Malaysia, Jumat (11/3). "Tapi tidak ada muatan politis.
   Kebetulan saja berada di bawah ISP Radnet. Selain kami ada beberapa
   situs lain yang di-deface, misalnya surya.go.id, djfm.co.id, dan
   metrofm.co.id."

   Sementara itu, Corporate Secretary BNI 46 Maruli Pohan mengatakan,
   situs BNI memang pernah dicoba diganggu cracker. "Namun dapat diatasi
   karena firewall dan security system yang kami miliki dapat mencegah.
   Di samping itu BNI juga sudah memasang early detection system."

Uji kemampuan

   Sampai sekarang, perang cyber antara Indonesia dan Malaysia masih
   berlangsung. Tindakan ini meresahkan banyak pihak. Jim Geovedi, mantan
   hacker yang kini bekerja di salah satu perusahaan konsultan pengaman
   jaringan komputer, mengatakan tindakan para cracker bisa menjatuhkan
   nama Indonesia.

   Sebenarnya, lanjut Jim, kondisi seperti ini sudah beberapa kali
   terjadi. Antara lain perang cyber yang berlangsung antara Indonesia
   dan Portugal, Timor Timur serta Australia. "Berdasarkan pengamatan
   saya, dalam setiap perang selalu cracker Indonesia yang memulai. Saya
   khawatir ini mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia yang tidak mau
   kalah dan agresif," katanya kepada Media, beberapa waktu lalu.

   Tidakkah tindakan para cracker merupakan salah satu wujud
   nasionalisme? Jim menegaskan, motivasi para cracker sangat beragam.
   Nasionalisme hanya salah satu alasan untuk membenarkan tindakan
   mereka. Alasan sebenarnya adalah uji kemampuan dan juga keinginan
   untuk memproklamasikan diri.

   Dalam pandangan Jim, maraknya praktik cracker disebabkan lemahnya
   hukum kejahatan cyber di Indonesia. Itu pula yang kemungkinan
   melatarbelakangi mengapa cracker di Indonesia selalu menyerang
   terlebih dahulu. "Di negara lain termasuk Malaysia, orang akan
   berpikir dua kali sebelum melakukan penyerangan. Sebab, hukum dan
   aparatnya sudah jelas. Itu pula yang mungkin menjadikan cracker
   Malaysia hanya mencantumkan imbauan perdamaian saat membalas serangan
   Indonesia."

   Diwawancara terpisah, Ketua Indonesia-Computer Emergency Response Team
   Budi Rahardjo mengemukakan pendapat hampir senada. Alumnus Institut
   Teknologi Bandung ini menegaskan, apa yang dilakukan para cracker sama
   sekali tidak mencerminkan rasa patriotisme. "Tindakan mereka justru
   mengarah pada anarki dan destruktif. Ini namanya nasionalisme sempit
   atau nasionalisme yang kebablasan," katanya.

   Karena itu, lewat blog (semacam website pribadi), Budi membuat imbauan
   agar para cracker kedua negara menghentikan aksinya. Pria yang akrab
   disapa Kang Budi ini menyarankan para cracker menyalurkan kekesalannya
   melalui dialog lewat e-mail, mailing list, bulettin board, blog atau
   media elektronik lainnya.

   "Silakan adu argumentasi, saling memaparkan bukti-bukti kepemilikan
   sah Ambalat. Itu lebih baik," ujarnya.

   Sehubungan dengan aksi para cracker, Budi mengatakan pihaknya kini
   tengah bekerja sama dengan Malaysia-Computer Emergency Response Team.
   Mereka sepakat memberi tahu para pengelola website yang sudah di-crack
   agar segera memperbaiki.

   Sedangkan, Wakil Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
   Johar Alam mempunyai pendapat berbeda. Dia menilai tindakan cracker
   kemungkinan besar dilatarbelakangi rasa nasionalisme karena merasa
   tanah airnya diganggu. "Menurut saya, tindakan mereka bisa dibenarkan.
   Apalagi mereka hanya mengubah tampilan, tetapi tidak merusak sistem,"
   katanya

   Johar menyatakan salut dengan anak-anak muda kedua negara yang bisa
   menahan diri. Dia berharap situasi seperti itu tetap dijaga. "Kalau
   sampai merusak sistem, saya tidak setuju. Akan ada banyak pihak yang
   dirugikan," tandasnya.

Bermacam motif

   Lalu, apa sebenarnya motif para cracker? Salah seorang cracker dari
   Bandung -- sebut saja Imam -- mengatakan, setiap orang atau kelompok
   cracker yang terlibat aksi e-ganyang Malaysia memiliki motif beragam.
   Tapi rata-rata untuk uji kemampuan dan just for fun. "Alasan
   nasionalisme hanya dalih saja. Andai benar ada, saya yakin hanya
   sebagian kecil," tuturnya.

   Beragamnya motif juga dikemukakan Dani Firmansyah yang pernah berhasil
   membobol sistem keamanan jaringan komputer KPU, kemudian mengganti
   nama-nama partai yang tertulis. Dalam pandangan Dani yang beberapa
   waktu lalu sudah selesai menjalani hukuman, motif yang diusung sangat
   beragam. Mulai dari patriotisme, iseng, just for fun atau hanya ingin
   uji kemampuan.

   Terlepas dari semua itu, lelaki yang kini tengah sibuk memasang
   instalasi jaringan komputer di beberapa perusahaan ini mengimbau agar
   semua cracker yang terlibat dalam aksi e-ganyang menahan diri. Dia
   khawatir perang cyber yang dia sebut sebagai tawuran di cyber akan
   menimbulkan banyak kerugian. "Saya lihat sudah berimbas pada perusakan
   situs yang ditujukan untuk kepentingan orang banyak. Kalau nanti yang
   terkena adalah situs trading atau bisnis, kerugian materinya pasti
   besar. Sebab, tidak murah membangun atau memperbaiki jaringan yang
   sudah rusak," tuturnya.

   Lebih jauh, Dani mengimbau agar komunitas yang melakukan aksi
   e-ganyang sabar menunggu perkembangan. "Kalau pemerintah sudah
   membunyikan genderang perang, maka itu kewajiban bagi setiap warga
   untuk membela negaranya sesuai dengan UUD'45," tandasnya.

------------------------------------------------------------------
Sebenarnya sih ini berita "B A S I" tapi, ada bagusnya untuk di simak
dan bukan ajang untuk adu domba hanya untuk dijadikan motifasi untuk meningkatkan
kewaspadaan (bagi pelaku bisnis and all), mempercanggih pertahanan
cyber, dan mempersiapkan serangan balik (jika tertekan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar